• instagram
  • Youtube
  • @gpq6529m

Minggu, 06 Agustus 2017

Tegal Sumedang dan Kesadaran Ekologis

"Tepatnya di belakang stadium Gelora Bandung Lautan Api, terdapat desa yang sejauh mata memandang dipenuhi bermacam limbah dari sampah dan korporasi raksasa. Desa yang jika orang-orang bertanya mengenai pepohonan dan dan air bersih, akan banyak jawaban yang memilukan, semacam kebingungan masyarakat; keresahan dan kegelisahan; juga makian dan tak jarang apatisme dari orang dewasa dan anak-anak."




Desa yang dikenal dengan nama Tegal Sumedang ini, memiliki banyak sawah. Namun—kembali diungkapkan—pepohonan untuk sumber penyerapan air dan pemberi udara segar, sangat minim dan teramat kering. Tak heran, jika masyarakat luar yang pertama kali datang ke desa ini akan mengrenyitkan dahi, semacam kegalauan atau keperihatinan ekologis.

Jika udara panas mendera, tak pelak lagi, semacam suhu udara di timur tengah, desa ini terasa teramat gersang. Sebaliknya, jika musim hujan datang, jalan-jalan yang dipenuhi tanah cokelat hasil dari penggalian pembangunan sungai, akan becek tak karuan. Ya, jika konstruk tanah sepeti itu, tak heran jika kendaraan warga atau para pendatang dan orang yang sekedar lewat akan kotor seketika.

            Menurut hasil wawancara dari beberapa tokoh masyarakat desa Tegal Sumedang, ketika membicarakan kesadaran kolektif mengenai bermacam hal, akan didapati jawaban yang menghawatirkan. Seperti halnya ketika melakukan wawancara kepada kang Opik, yang tak lain merupakan tokoh kepemudaan dan Karang Taruna, ihwal keasadaran membangun desa secara kolektif dan menyinggung kondisi ekologis setempat, ia mengatakan: “di desa ini, jika ada suatu kegiatan yang bersifat gotong royong, itu tak akan lama bertahan. Mungkin tak lebih dari dua bulan, sifat gotong royong itu akan lenyap. Tak jauh berbeda dengan kesadaran ekologi itu sendiri”.

Ini menjadi tantangan bagi kita, beberapa mahasiswa yang tergabung dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis pemberdayaan masyarakat, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tak hanya beban moral dan beban sosial yang harus kita sadari. Lebih dari itu, kesadaran pembangunan manusia dan lingkungan yang sehat mesti disadari sedari dalam pikiran. Kita lihat kondisi beberapa wilayah yang dihinggapi megahnya pembangunan korporasi seperti pembangunan pabrik semen di Kendeng, ketidak-adilan pemberdayaan air bersih oleh salah satu pabrik Air Minun dalam Kemasan (ADK) di Sukabumi, juga krisis ketidak-adilan moral agraris di Karawang.

            Mahasiswa, memiliki beban berat dalam punggungnya. Ia mesti melakukan perubahan yang tak hanya mematok pada narasi-narasi perjuangan hari lalu. Ia harus melakukan perubahan dengan lugas dan jeli melihat keadaan sekitarnya hari ini. Seperti halnya yang diistilahkan Moeslim Abdurahman, seorang intelektual mestilah menghapus segala macam dosa sosial, ia mesti memunculkan jiwa nabi sosial yang memiliki sifat profetik. maka tak heran, seorang intelektual semacam itu, oleh Moeslim Abdurrahman dan Mansoer Faqih disebut dengan intelektual organik. Intelektual yang menghidupakan kematian lingkungan sekitarnya.


            Maka dari itu, terlepas dari kegiatan KKN ini, kita mencoba dan mengusahakan penghapusan dosa sosial (krisis ahlak, kejahatan korporasi terhadap lingungan lokal, kerangka berpikir masyarakatnya, dan lain sebagainya) yang terdapat di desa ini. Bersama beberapa elemen masyarakat—terlebih tokoh masyarakat dan pemuda—kita mencoba berbaur melaksanakan kegiatan yang sederhana namun berharap merubah kesadaran pembangunan terhadap masyarakatnya yang bersifat jangka panjang. Hingga pembangunan lingkungan secara kolektif dapat timbul.

Kontributor: Zul

0 komentar:

Posting Komentar